“Hidup tanpa teman bagaikan kematian tanpa saksi.”
Pepatah Spanyol
I scraped my knees while I was praying
And found a demon in my safest heaven
Seems like it’s getting harder to believe in anything
Than just to get lost in all my selfish thoughts
I wanna know what it’d be like
To find perfection in my pride
To see nothing in the light
I’ll turn it off, in all my spite
In all my spite, I’ll turn it off
*
Bisakah kita menyatukan serpihan ingatan yang tak lagi melekat di bagian cerebrum kita ? Bisakah kita membalikkan lagi waktu yang sempat terlewat sia-sia ?
Bisakah kita menemukan diri kita yang lain di suatu tempat ketika kita mati nanti ?
Dan sampai kapan aku akan bertanya “bisakah” pada diriku sendiri , sementara tak ada jawaban yang aku tau , ataupun orang lain yang akan menjawab ?
Aku ingin kembali ke tiga tahun yang lalu . Ketika semuanya adalah kehidupan . Kehidupan nyata yang waras , menurutku . Dan kini aku hanya bisa menunggu kapan Tuhan akan mengirimkan lentera itu ke dalam gelapku …
*
“Hei , sedang apa kau ?” seseorang dari kamar ganti menepuk pundakku pelan . Itu Hyuk Jae . Dia adalah sahabatku semenjak aku pindah ke kota besar ini .
“Ah kau ini mengagetkanku saja , Hyuk “ kataku sembari meninju bahunya .
“Kau , apa yang kau lamunkan, huh ?”
“Tidak , aku hanya ingin pulang saja ke Mokpo . Aku rindu hyung . Appa .Juga Eomma. Ia sedang sakit , aku ingin menjenguknya” kataku menerawang .
“Sudahlah , Donghae . Jika kau terus seperti ini kau akan sakit . Jangan terlalu banyak pikiran dulu . Kita kan akan menghadapi ujian semester . Jika pikiranmu terbagi , bagaimana nilaimu nanti . Kau bisa melewati ujian dulu , setelah semuanya selesai , kau bisa saja pulang ke Mokpo . Apa salahnya menunggu sedikit lebih lama ?” Hyukjae menepuk bahuku . Begitulah . Ia selalu berusaha menghiburku . Menasihatiku . Ya , ia sahabatku .
*
“Saehee , makan dulu “
“Nanti saja bu , aku belum selesai “
“Saehee …” aku mendekati Saehee yang terduduk lemah di ranjangnya . Ia tetap asyik dengan burung kertasnya .
Hari demi hari tubuhnya makin melemah . Aku tak tahan melihat senyumnya. Karena pada saat seperti itulah aku membohongi diriku sendiri , bahwa putriku masih bisa tersenyum di balik kelemahan jiwa dan raganya yang makin hari makin memburuk . Aku ingin sekali bisa membuatnya benar-benar seperti sedia kala . Dimana ia bisa bermain dengan teman-teman sebayanya . Membicarakan idolanya dengan teman-temannya . Belajar di sekolah . Menjadi anak yang berprestasi . Dan bercerita tentang lelaki yang ia sukai padaku . Kapan aku bisa menemukan saat-saat seperti itu lagi ?
*
Aku berusaha mendapatkan nilai terbaik untuk semester ini . Aku ingin menunjukkannya pada Appa dan Eomma . Aku ingin membanggakan mereka . Aku ingin membuktikan pada mereka bahwa aku—meski seorang anak dari pinggiran Korea dari ayah yang bekerja sebagai nelayan—bisa menjadi yang terbaik .
*
Sudahkah aku menyelesaikan ini ?
Kapan ini semua akan terselesaikan ?
Aku ingin pulang , ke tiga tahun yang lalu . Dimana semuanya adalah kehidupan untukku .
Aku ingin menghirup udara kebebasan lagi . Aku ingin melihat langit yang biru . Bukan dari balik jendela yang seakan memenjarakan dimensiku dengan dunia luar . Bukan lagi titik hujan yang tampias di kaca jendela . Bukan matahari yang semu kehangatannya , atau cahayanya yang merambat lewat jendela itu . Dan bukan senja yang aku lihat dalam lukisan , melainkan kenyataan yang senyata-nyatanya ingin ku lihat .
Andai Tuhan ada di depanku sekarang , aku ingin sekali menyerahkan surat yang sudah aku tulis tiga tahun yang lalu padaNya .
Aku ingin teman .
*
“Sudah berapa buah yang kau dapatkan , Sayang ?”
“Baru 715 buah , Eomma”
“Wow , sudah banyak ! Kau hebat , Saehee” kataku menyemangatinya . Tetapi ia terdiam setelah mendengar kata-kataku tadi .
“Eomma …”
“Kenapa , Saehee ?” aku duduk di sisinya ,sembari mengusap rambut hitamnya yang makin hari merontokkan diri dari tempatnya berdiri kokoh .
“Aku kembali berpikir tentang ini , Eomma . Kapan aku bisa menyelesaikan ini semua ? Aku takut tidak bisa menyelesaikannya ..” katanya sembari menunduk . Malaikat kecilku mulai kehilangan cahaya hidupnya . Tuhan , apa Kau tega melihatnya seperti ini ? Ia sungguh mengharapkanMu untuk mendengarkannya . Apa salahnya hingga ia menderita seperti ini , Tuhan ? Akankah kau mendengarkan doanya , satu kali saja ?
“Kau pasti bisa , Periku . Hei , Saehee yang aku kenal tidak akan menyerah bukan ketika ada sesuatu yang menghalanginya ? Ia tidak akan menyerahkan masa depannya pada nasib . Ia yang akan menentukan takdirnya sendiri , dengan tangannya sendiri” hatiku perih . Aku mengutip kata-kata yang pernah ia katakan dulu .
“Eomma , lagi-lagi anak-anak itu menjahiliku”
“Apa kau pernah berbuat salah pada mereka ?”
“Tidak . Aku tidak pernah merasa berbuat sesuatu yang salah pada mereka . Aku baik-baik saja “
“Lalu , apa yang akan kau lakukan ?”
“Lihat saja , aku akan membuktikan pada mereka bahwa aku tidak selemah yang mereka pikirkan . Aku boleh saja tercipta dengan tubuh wanita , tapi aku tak akan menyerahkan takdirku pada nasib . Suatu hari mereka akan tahu siapa Kim Saehee”
“Itu dulu , Eomma . Kini keadaanku berbeda . Aku lemah . Aku tidak punya teman . Saehee juga jelek . Tidak punya teman . Dan Saehee tidak punya waktu yang lama untuk tinggal bersama Eomma dan Oppa “ ia meneteskan air matanya . Hatiku makin perih dengan kata-katanya . Perih sekali . Aku ingin sekali berbuat sesuatu yang bisa membuatnya melupakan apa yang sedang ia hadapi saat ini . Tapi , aku masih belum mampu untuk itu . Andai … andai saja ada satu cara untuk membuatnya lupa akan waktu yang ia miliki , aku akan berusaha untuk melakukan cara itu untuk membuatnya menghabiskan sisa waktunya itu dengan senyum .
*
Tuhan , semalam aku bermimpi tentang seseorang .
Ia yang memberikan seekor kupu-kupu putih dan setoples kunang-kunang padaku .
Ia juga yang tersenyum padaku . Siapakah lelaki itu , Tuhan ?
Aku ingin mengenalnya . Aku rasa ia anak yang baik .
Ia berdiri di samping kotak pos .
Tunggu , apa itu kotak pos yang sama dengan yang berada di pantai ?
Tuhan , apa yang ingin kau sampaikan padaku ?
*
“Kau serius ingin pulang ?”
“Ne , aku ingin pulang , Hyuk . Aku rindu Donghwa dan kedua orang tuaku”
“Tapi , libur semester akan kita gunakan untuk persiapan acara tahunan fakultas kita , Donghae … “
“Tenang saja , aku tak akan lama di sana . Aku akan segera kembali “
Hyukjae menatapku . Ada perasaan sanksi di matanya . Juga khawatir . Aku mengerti . Ia satu-satunya sahabatku di sini yang dekat denganku . Juga kehidupan lamaku di Mokpo . Ia sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri . Meskipun para mahasiswa yang tinggal di dorm juga berbuat baik dan dekat padaku , tapi hanya ia yang sering berada di dekatku . Ya , ia sahabatku .
*
Aku harap ini adalah mimpi . Hanya mimpi buruk yang akan menghilang dari pikiranku ketika aku terbangun dari tidurku . Aku kehilangan cahaya hidupku .
Weeks later ….
The tragedy, it seems unending
I’m watching everyone I looked up to break and bending
We’re taking shortcuts and false solutions
Just to come out the hero
Well, I can see behind the curtain
(I can see it now)
The wheels are cranking, turning
It’s all wrong, the way we’re working
Towards a goal that’s non-existent
It’s not existent, but we just keep believing
*
“Donghae-ya , tolong ambilkan bolanya !”
Hari itu , aku sedang bermain bola dengan kawan-kawan lamaku . Mereka tak banyak berubah dari yang terakhir kali aku lihat . Kecuali Changwan , ia terlihat lebih kurus dari sebelumnya . Mungkin kini ia sudah memiliki kekasih . Hihihi ….
Aku berlari menghampiri bola yang menggelinding masuk menuju ke halaman rumah orang yang pagarnya terbuka . Lalu bola itu berhenti tepat di bawah jendela .
“Permisi , ada orang ? Permisi … Maaf , aku ingin mengambil bola yang menggelinding “
Tak ada yang menjawab . Aku pikir tak ada orang di rumah itu . Mungkin sedang ditinggalkan pemiliknya . Jadi , dengan perasaan takut-takut-nekat , aku memasuki rumah itu . Maaf Tuhan , aku tidak bermaksud jelek . Aku hanya ingin mengambil bola saja . Aku tak akan berbuat jahat .
Aku memasuki halaman rumah orang itu , pagarnya terbuka . Aneh . Tapi aku masuk saja . Aku mengambil bola yang tergeletak di dekat tembok . Ketika aku menegakkan badanku …
BOFF !!!
Aku melihat seseorang di jendela menatapku . Hampir saja jantungku lepas dari tempatnya . Aku kira hantu . Aku segera membungkukkan tubuhku . Minta maaf karena masuk tanpa izin . Tapi kemudian ia tersenyum .
Ia adalah sesosok wanita berambut hitam panjang dengan baju bunga-bunganya yang ternyata daritadi memperhatikanku . Di luar dari apa yang ku pikir akan terjadi , ia tersenyum padaku . Ia berkata sesuatu padaku . Tapi aku tak bisa mendengarnya dari balik jendela . Jendela itu tertutup , hingga suaranya tidak terdengar .
“Buka saja jendelanya “ kataku sembari menunjuk jendela . Ia menggeleng . Lalu memberikan isyarat padaku agar aku menunggunya sebentar . Ia ternyata menuliskan sesuatu di sebuah kertas .
TEMAN.
Ia menuliskan sebuah kata . Teman ?
“Iya , aku teman . Aku bukan penjahat “ kataku dengan isyarat tanganku . Wanita itu mengangguk .
Aku tahu.
Aku tersenyum .
Siapa namamu ?
“Donghae , Lee Donghae”
Ia tidak mengerti . Aku kebingungan harus menulis dimana . Tiba-tiba aku memiliki ide. Aku mendekati kaca lalu menghembuskan nafasku yang menghasilkan titik-titik uap di kaca lalu menuliskan namaku.
AKU LEE DONGHAE. KAU ?
Ia pun menuliskan namanya .
Kim Saehee.
Aku menghembuskan nafas lalu menulis lagi.
NAMAMU CANTIK , SEPERTI ORANG YANG MEMILIKI NAMA ITU
Ia tersenyum , lebih manis dari senyumnya yang pertama kulihat .
Kamsahamnida ^^
Tiba-tiba …
“Hoi, Donghae-ya ! Lama sekali kau . Kami menunggumu “
“Ahya , aku segera ke sana …”
Aku cepat-cepat menuliskan sesuatu lagi .
AKU HARUS PERGI SEKARANG.
Ia menuliskan sesuatu cepat-cepat.
Kenapa ?
Wajahnya melukiskan kekecewaannya .
BESOK AKU AKAN MENEMUIMU LAGI.
Ia tidak menuliskan apa-apa lagi . Ia tersenyum padaku . Tapi kali ini rasanya senyum itu berat untuk diberikan padaku , karena aku akan meninggalkannya .
*
Teman.
Inikah rasanya memiliki teman ?
Kau bisa tersenyum tulus untuknya tanpa beban . Lalu apalagi yang kau inginkan bila kesenangan itu telah kau dapatkan ?
Tidak ada . Karena teman adalah kebahagiaan itu sendiri , yang Tuhan berikan untukmu . Untuk menjadi lentera ketika hidupmu padam .
*
Keesokan harinya , aku lewat di depan rumah itu . Tapi lagi-lagi , aku tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di rumah itu . Tidak juga di kamar tempat Saehee berada . Huft , sudahlah mungkin lain kali .
Aku terhenti seketika . Aku terhenti bukan karena di depanku terjadi kecelakaan atau ada bangkai hewan yang mati terlindas . Tapi aku merasa seperti ada yang memperhatikanku . Aku menoleh ke arah rumah Saehee .
Dan yang aku temukan …
DONGHAE , KAPAN KAU DATANG ? AKU MENUNGGUMU.
Tulisan itu tepat berada di jendela . Rasanya tulisan itu belum ada sebelumnya . Tapi aku tersenyum .
Aku membuka pagar rumah Saehee lalu berlari kecil menuju depan jendela kamar Saehee . Aku mengetuk jendelanya . Tirainya bergoyang . Lalu aku melihatnya dari balik tirai itu, lagi-lagi tersenyum padaku . Aku balas tersenyum .
Kenapa baru datang ?
Aku mengeluarkan note kecil dan pensil untuk menulis . Aku sudah mempersiapkannya untuk ini . Aku sudah berjanji pada Saehee untuk menemuinya hari ini . Jadi untuk bisa berkomunikasi dengannya , aku harus membawa alata tulis (rasanya seperti akan pergi sekolah…)
MIANHAE , TADI AKU LIHAT TIDAK ADA ORANG. AKU PIKIR KAU PERGI.
Ia menggeleng lalu menulis.
Aku tidak pergi dan tak akan pernah pergi dari kamar ini.
Aku mengangkatkan alisku.
KENAPA ?
Karena penyakitku.
SAKIT APA ?
Aku tak tahu.
PASTI MENYEDIHKAN.
Tidak sedih , karena aku memiliki teman sepertimu sekarang ^^
Aku tersenyum . Saehee adalah anak yang menyenangkan . Aku sudah nyaman berada di dekatnya (meski dihalangi oleh sebuah tembok dengan jendela yang tidak bisa terbuka) ketika pertama kali berbicara dengannya .
PASTI JUGA KESEPIAN… -.-
Tidak ^^
KARENA ADA AKU ?
^^
Lagi-lagi aku tersenyum dibuatnya.
KAPAN KAU AKAN SEMBUH ?
Secepatnya.
NE, CEPAT SEMBUH YA. AKAN AKU TUNJUKKAN SESUATU.
Mwo ? Tunjukkan apa ?
KAU AKAN TAHU KETIKA KAU KELUAR DARI BENTENG PERTAHANANMU INI ^^
Haa… kau jahat X(
HAHAHA…
Dan begitulah pembicaraan kami . Aku belum pernah melakukan pembicaraan seperti ini . Tapi aku sedih . Aku seperti berbicara pada seorang tahanan . Padahal anak itu anak yang baik . Tapi kenapa ia tidak diperbolehkan untuk menghirup udara yang sama dengan yang aku hirup saat ini ? Sepertinya ia kesepian .
*
“Donghae , kau akan tinggal berapa lama ? Apa selama liburan semestermu ?”
“Ne, Hyung . Aku di sini selama liburan semester”
“Ngomong-ngomong , beberapa hari ini aku perhatikan , kau tampak sedikit aneh , Donghae … Ada apa denganmu ?”
“Jjinja ?”
“Aha .. ada apa , Donghae ?” Hyung masuk ke dalam , mengambilkan minum untukku dan untuknya . Jarang-jarang kami bisa duduk bersama seperti ini . Sembari menunggu hyung , aku memikirkan jawaban yang tepat .
“Jadi …?” lanjutnya, menagih jawaban .
“Aku bahkan tak tahu aku ini kenapa ,Hyung”
“Mwo ? Bagaimana bisa seperti itu ?” hyung mencibir sembari meninju bahuku .
“Ya .. bagaimana ya , aku sendiri tak tahu apa yang terjadi padaku . Ohya , memang aku ini aneh kenapa , hyung ?”
“Tunggu , Donghae . Aku ingat kau pernah berlaku seperti ini .. Sebentar” hyung sepertinya mencoba mengingat-ingat .
“Ahya , kau bersikap seperti ini ketika kau sedang menyukai seorang wanita . SKAKMAT!“ hyung heboh sendiri .
“Hyung tahu dari mana ? Itu masih perkiraan hyung saja “
“Hahahah , memang apa yang salah kalau dongsaengku jatuh cinta , hah ?” hyung mencolek bahuku dengan telunjuknya , ia menggodaku .
“Sudahlah , Hyung . Aku lelah , aku tidur duluan ,ya . Jaljaeyo~”
“Curang kau , Donghae . Kau lari dari pertanyaanku…” katanya sembari tersenyum . Mungkin merasa menang karena telah membuatku malu setengah mati.
*
Aku membaringkan tubuhku di ranjangku . Ranjang lamaku . Lalu menatap pemandangan malam di luar jendela . Rasanya hampa . Semua yang ada di sini .. rasanya tak senyata dengan yang aku lihat di luar sana . Aku menyentuh kaca jendela yang dirambati cahaya rembulan malam itu . Apa ini ,yang selama ini Saehee rasakan ? Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya . Perasaan terkungkung oleh istana yang kau pikir adalah tempat teramanmu dari dunia luar . Padahal sekejam-kejamnya dunia di luar sana , alam selalu menjaga kita . Mengajarkan kita akan sesuatu yang tak akan kita temukan di rumah . Tak akan kita temukan dari balik jendela ini . Kapan aku bisa memberikanmu harum kebebasan itu , Saehee ?
*
Tak terasa persahabatan itu mulai terjalin antara aku dan Saehee . Ia anak yang baik , pintar dan … cantik . Meski ia hidup di balik jendela itu , tapi ia tetap mengikuti apa yang terjadi di dunia luar . Ia pernah bercerita padaku tentang kapal karam dan kotak pos yang ada di pantai. Legenda itu … aku tak menyangka ia mempercayai legenda itu . Ia ingin sekali mengirimkan sebuah surat yang sudah ia tulis untuk orang yang amat ia cintai . Tapi tak pernah sempat dan tak pernah bisa untuk melakukannya . Saehee sangatlah lemah , aku tahu dari gerak-geriknya . Tetapi ia sering memaksakan diri untuk dapat bicara denganku setiap ada kesempatan .
Ketika aku tidak bisa datang ke rumahnya , karena suatu hal , aku menyempatkan untuk melewati jalan di depan rumahnya . Untuk melihat kamar dengan tirai hijau kuning yang membangkitkan semangat itu . Dimana biasanya Saehee menatap jalanan dengan tatapan kosongnya . Tapi aku tidak pernah melihat Saehee duduk di tempat biasanya , di belakang jendela itu untuk melihat dunia luar kecuali ketika aku datang .
Apa kedatanganku mengganggunya ? Mungkin dari kemarin aku terus mengganggu istirahatnya , tapi aku berjanji minggu ini adalah minggu terakhir aku mengganggunya . Setelah itu aku akan kembali ke dorm .
*
Beri aku waktu sedikit lagi, Tuhan . Untuk merasakan bahwa ia adalah teman . Teman . Aku sudah lama tidak mengenal kata itu .
“Kau ingin apa ?”
“Aniya . Aku tidak ingin apa-apa selain TEMAN”
“Ucapkan syukur . Karena Tuhan telah mengirimkanku ke depanmu”
“Kau tahu ? Kini aku bahagia . Ada kau di sisiku sekarang”
“Hahah … Bisa saja kau , Saehee . Selain itu , apa ada hal yang kau inginkan ?“
“Hm … mungkin satu hal . Aku ingin melihat seribu camar menghampiriku, menghilangkan segala beban yang aku punya …”
“Kau yakin ada seribu ?”
“Aku tak tahu , Dongahe-ya…”
“Aku pikir lebih . Percayalah , tak hanya manusia . Laut pun bahkan akan terpikat olehmu , Saehee . Kalau laut saja bisa terpikat , apalagi camar yang bersandar pada laut itu sendiri ?”
Dan aku ingat , aku tertawa .
*
“Donghae-ya …”
“Huh ?” aku menengok ke arah Changwan yang menatapku lekat .
“Kau kenapa ?”
“Mwo ? Apa yang kenapa ?”
“Ne , aku perhatikan kau berbeda . Berbeda apanya , Chang-ya ?” aku meneruskan menyikat bola-bola yang kotor .
“Hm … kau sedang jatuh cinta ?” katanya . Aku terhenti .
“Donghae-ya ?” tanyanya .
“Oh ya, mian Chang-ya . Kau bilang apa ?”
“Kau jatuh cinta ?”
“Kau tahu , kau bukanlah satu-satunya orang yang berkata seperti itu” kataku tersenyum sinis pada diriku sendiri .
“Tapi benar, Donghae-ya . Kau terlihat aneh . Belakangan ketika sedang bermain , kau sering kehilangan konsentrasimu . Begitu juga ketika kita sedang berbicara , kau seringkali kehilangan arah pembicaraan kita . Kau juga jadi lebih sering menyendiri ketimbang menghabiskan waktu bersama-sama kami . Bahkan , aku tak jarang memergokimu tersenyum sendiri . Tanda-tanda itu … apalagi kalau bukan jatuh cinta ?”
“Hahah … bisa saja kau , Chang-ya”
“Aku serius . Ngomong-ngomong , siapa wanita beruntung itu ?”
“Huft , sepertinya aku harus menyerah . Ia seorang wanita manis yang tinggal di sebuah kamar yang jendelanya tak pernah terbuka”
“Siapa dia ?”
“Namanya Kim Saehee . Ia anak yang baik juga pintar . Kadang aku menemukannya ketika ia sangat polos . Mungkin karena ia terjaga dari pergaulan di luar dunianya itu . Meski mempunyai dunia lain di dalam kamarnya , tapi ia tetap tahu apa yang terjadi di luar kamarnya itu. Aku kagum sekali padanya , Chang-ya” kataku . Tanpa aku sadar, aku membeberkan semuanya pada Chang-ya . Dan terlebih lagi tak hanya Chang-ya yang mendengar pengakuanku itu . Tetapi teman-temanku yang lain juga mendengarkannya . Rupanya mereka menguping pembicaraan kami sedari tadi . Sial .
“Hoaaaaahhh , teman kita sedang jatuh cinta !!!” Jin Hoo berteriak .
“Mwo ? K-kalian ?” aku kaget .
“Lho ? Ada kalian ?” Changwan ikut-ikutan heran . Tapi tidak sepanik diriku .
“Wah , Donghae … kau tidak memberitahu pada kami ya masalahmu itu . Pantas saja dari kemarin kau terlihat seperti orang sinting “ Jun menepuk bahuku .
“Di pojok . Tersenyum sendiri . Tertawa sendiri . Mengerikan “ kata Jungsu menambahkan dengan gaya dramatisnya.
“Hahaha , sudahlah kawan. Biarkan teman kita ini yang sedang jatuh cinta” kata Changwan meredakan keriuhan yang lain .
“Tapi Donghae , rasanya nama wanita itu familiar di telingaku”
“Saehee ?” tanyaku pada Jin Hoo , “siapa ?”
“Ah aku lupa . Mungkin aku salah” kata Jin Hoo lagi .
“Waktumu di sini kan tinggal sebentar lagi . Apa salahnya kau mencoba peruntunganmu dengan menyatakan cinta padanya” Jungsu menepuk bahuku . Mencoba memberikan ide gila yang tidak pernah aku pikir sebelumnya . Tapi sialnya , yang lain mengiyakan .
*
Aku menemukan benang merah dari semua yang sempat aku alami . Aku telah melihatmu sedari dulu . Sedari kau tak mengenal siapa itu aku ; aku telah mengenalmu .
Andai suatu hari nanti kau pergi meninggalkanku , aku ingin meminta maaf padamu.
KENAPA KAU YANG MEMINTA MAAF ?
Aku melakukannya karena aku ingin ^^
-.-a AKU BINGUNG , SAEHEE…
Tidak usah kau pikirkan , Donghae-ya . Tapi berjanjilah satu hal padaku..
APA ?
Kau akan hidup bahagia dengan wanita yang kau cintai.
Aku lihat ia terdiam setelah membaca apa yang aku tulis . Lalu tersenyum .
TAUKAH KAU SESUATU ?
Apa?
AKU BAHAGIA BERSAMAMU, SAEHEE <3
Ia tersenyum jahil . Sedangkan aku ? Dengan sukses aku dibuatnya malu . Aku merasakan sesuatu menembus segala waktu yang telah hangus . Aku menemukan lentera itu . Lentera terakhir yang sedari dulu ada di dekatku , namun tak pernah aku lihat . Tapi , ketika aku sudah menemukannya , nyala lentera itu kian meredup .
DAN BERJANJILAH JUGA PADAKU SAEHEE…
Apa itu ?
Aku melihatnya menulis dengan cepat , namun lama sekali . Wajahnya yang serius sekali itu terlihat lucu sekali .
KAU AKAN HIDUP LEBIH LAMA DARI YANG KAU PIKIRKAN . KAU AKAN HIDUP LEBIH BAHAGIA LAGI DARI TIGA TAHUN YANG LALU . KAU AKAN MENGHIRUP UDARA KEBEBASAN LAGI SUATU HARI BERSAMAKU . BERJANJILAH UNTUK ITU SAEHEE …
Mataku serasa pedas sekali . Jantungku berdegup kencang (bahkan aku sempat lupa bahwa aku ini masih mempunyai jantung) . Sesuatu menusuk dadaku , tepat pada bagian yang selama ini aku kosongkan dari hal lain selain sebuah kebahagiaan .
SAEHEE ?
Donghae mengetuk jendela . Ia melihat perubahan pada wajahku .
Ahya ? Mianhae …
KAU TAK APA ?
Tidak , aku terharu , Donghae-ya … Gomawo ^^
Several days before leave…
And the worst part is
Before it gets any better
We’re headed for a cliff
And in the free fall
I will realize I’m better off
When I hit the bottom
*
Beberapa hari ini , Saehee tidak pernah menampakkan dirinya lagi . Aku sudah mengetuk jendelanya berkali-kali tapi tak pernah membawa hasil apa-apa . Tak ada sosok dirinya yang datang dari balik tirai hijau kuningnya . Padahal , sekarang ini adalah hari-hari terakhirku di sini . Aku ingin mengucapkan sesuatu padanya . Aku juga ingin meminta maaf karena tidak bisa menemaninya terus di sini .
Sempat terbesit perasaan curiga yang berlebihan hingga timbul amarah yang tak jelas datang dari mana . Marah karena ia tak menyapaku lagi . Marah karena ia tak lagi mau berbicara denganku dan marah karena aku tidak bisa bersama dengannya lebih lama lagi .
*
Terimakasih untuk waktu yang kau berikan untukku yang sebenarnya tak pernah kau tahu siapa aku ini . Walau begitu , kau tetap lelaki yang baik . Sahabatku di sisa hidupku , Donghae-ya .
“Laut”
“Kenapa dengan ‘laut’ ?”
“Itu arti namamu bukan ?”
“Ne.. kenapa ?”
“Aniya . Sudah lama aku ingin sekali berjalan-jalan di atas pasir pantai . Aku rindu dengan jejak-jejak kaki yang tertinggal , burung camar , ombak yang membisikkan ketentraman dan kehangatan matahari yang kau dapat ketika kau datang di kala fajar atau senja hari”
“Kau mau pergi ke laut ?”
“Ne, bisakah kau mengantarku ke sana ?”
“Tentu . Kenapa tidak ? Kita masukkan suratmu bersama-sama ke sana. Aku juga ingin mengirimkan suratku ke sana. Kita kirimkan bersama”
Tapi , aku tak perlu apapun lagi , ketika kau datang . Ketentraman dan kehangatan yang laut berikan sudah ada padamu . Jadi aku tak perlu untuk berjalan jauh . Karena ‘laut’ , salah satu tempat dimana kehidupan berawal , ia ada di depanku . Bahkan bisa tersenyum untukku . Terimakasih Donghae-ya .
Sahabat …
*
Aku sudah sampai di depan rumah Saehee . Kali ini aku tidak akan mengetuk jendelanya, melainkan pintu rumahnya . Aku memberanikan diri untuk itu . Ini demi Saehee , aku harus bertemu dengannya langsung , aku harus mengkonfismasi langsung padanya perihal beberapa hari ini .
Aku mengatur napasku yang tak menentu . Degupan jantungku juga semakin cepat berdetak . Tanganku mulai berkeringat. Tapi akhirnya tanganku mengetuk pintu bercat putih itu.
Aku mengetuk tiga kali , tapi tak ada sahutan sang empunya dari dalam. Aku mengetuk lagi . Lalu pintu terbuka . Seseorang menatapku sinis dari dalam .
“Permisi , Ahjumma . Apa Saehee –nya ada ?” aku bertanya taku-takut karena wajah Ahjumma itu galaka sekali . Seperti ingin mencabik-cabikku lalu memakannya .
“Sebaiknya kau pergi dari sini , sekaranga juga !” suaranya pelan namun intonasinya tegas .
“Tapi , saya ingin bertemu Saehee. Sebentar saja”
“Keluar !!!”
“Ahjumma , maafkan saya . Tapi kenapa saya tidak diperbolehkan untuk bertemu Saehee ?”
BRAAKKK !!!!
Pintu di tutup tepat di depan wajahku .
Tapi hatiku berkata lain . Aku merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi . Aku mengetuk pintunya lagi .
“Ahjumma ! Saya ingin bertemu dengannya !! Saya ingin berpamitan padanya . Kenapa saya tidak diperbolehkan bertemu dengannya ? Saya temannya . Kenapa saya tidak diperbolehkan untuk menjenguknya untuk yang terakhir kalinya ?!”
Tiba-tiba pintu terbuka cepat …
Ahjumma itu lagi . Ia menatapku nanar . Matanya seperti memberikan suatu makna lain dalam menatapku .
“Masuklah”
Aku pun menurut dan duduk di ruang tamu.
“Kau Lee Donghae ?” tanyanya dengan suara yang sedikit serak. Aku mengangguk pelan.
“Kau teman Saehee?” tanyanya dengan wajahnya yang sama tegasnya dengan yang pertama kali aku lihat tadi . Sekali lagi aku mengangguk .
“Ada yang salah ?”
“Apa tujuanmu datang ke sini ?”
“Aku ingin meminta maaf padanya dan ingin berpamitan . Aku harus kembali ke Seoul”
“Boleh aku tahu , sejak kapan kalian berteman ?”
“Sebulan yang lalu , tepatnya”
Aku melihat Ahjumma itu mulai berkaca-kaca . Sepertinya sedang mencoba untuk menguatkan diri dari sesuatu yang sedang memaksanya menangis .
“Sayangnya , kau tertinggal satu hal , Nak”
“Apa itu ?”
“Ketahuilah …” air mata Ahjumma itu mulai menetes . Dan di setiap kata-kata yang bergulir itu nantinya akan semakin membuat matanya basah .
Kata-kata itu pun keluar begitu saja dari bibir Ahjumma , tanpa ampun. Napasku rasanya tertahan di pipa pernapasanku . Tidak keluar , tidak juga masuk udara itu . Lain halnya dengan air mataku .
“Kemarilah , aku ingin menunjukkan sesuatu padamu” katanya sembari memanduku pergi ke suatu tempat . Aku mengikutinya .
Sampailah kami di depan pintu bercat putih . Di sana aku menemukan sebuah note :
KIM SAE HEE !!! SEMANGAT . SARANGHAEYO <3
-KIM KI BUM-
Kim Kibum ? Rasanya aku pernah mendengar nama itu . Ia kekasih Saehee?
Ahjumma itu membuka pintu kamar . KLEKK . Suara derit pintu terbuka pun terdengar . Di jejakan pertamaku di kamar itu , aku merasakan sesuatu yang lain . Aku merasakan Saehee di sini , tapi nyatanya tak ada siapapun kecuali aku dan Ahjumma .
Aku melemparkan arah pandanganku ke jendela tempat Saehee biasa duduk dan bercerita tentang semua yang ia pikirkan padaku . Di sana … tempat pertama aku menuliskan namaku .
“Jangan kau sentuh apapun !” Ahjumma itu kembali menatapku tajam , namun kini matanya berkaca-kaca . Sepertinya ia sudah tak tahan menahan semuanya sendiri .
“Mianhae , Ahjumma . Apa aku boleh tahu , ini untuk apa ? Kenapa banyak sekali ?” aku mengambil sebuah burung lipat dari dalam sekotak kardus yang penuh dengan burung lipat warna-warni .
“J-jangan kau sentuh itu …” ahjumma itu mulai terisak . Ia terduduk di sisi ranjang kamar itu . Sedangkan aku segera menaruh burung lipat itu ke tempat awalnya .
“M-mianhae , Ahjumma …”
“Saehee … ia adalah peri kecilku . Ia putriku yang paling baik . Ia anak yang cantik , juga pintar . Ia selalu menurut padaku . T-tapi .. Ke-kenapa Tuhan mengambilnya dariku , kenapa ?!”
“Ahjumma , percayalah .. Saehee bahagia dianugerahi Ibu sepertimu . Ia bangga padamu. Ia sangat menyayangimu “
“Kenapa harus anakku yang mengalami ini semua ?” ahjumma makin terisak .
“Karena Saehee adalah wanita yang baik“
*
Di tempat lain , ombak lautan membuas seakan mengamuk pada karang yang tak pernah membalas amarahnya . Camar beterbangan di atas lautan . Dan di sebuah kotak pos di pinggiran pantai , sebuah surat tergeletak di sana .
Dear Tuhan ,
Ini aku , Saehee . Aku sudah menemukan jawaban dari mimpiku dan alasan mengapa aku jadi tiba-tiba menyukai lautan , tiga tahun yang lalu .
Aku sudah menemuinya . Ia memberikan kupu-kupu putih dan setoples kunang-kunang padaku. Ia sudah memberikannya , Tuhan . Kini aku bisa sebebas yang aku inginkan . Aku juga mempunyai lentera untuk menerangi jalanku di kala gelap .
Kini aku tak perlu membayangkan seribu camar mengelilingiku , tapi aku melihatnya di depan mataku . Mereka sedang bernyanyi di pinggiran karang . Indah .
Waktu yang Kau berikan sangat cukup untukku .
Dan terimakasih sudah meminjamkan seorang sahabat padaku , Tuhan .
Kim Saehee
*
Aku membawa sekardus burung lipat ke lapangan . Langkahku gontai . Aku tak percaya ini semua .
“Saehee … ia sudah pergi sebulan yang lalu”
Rasanya seperti diterjang seribu badai dan guntur menyambarku . Saehee sudah pergi . Lalu , selama ini aku …
Dari kejauhan kawan-kawanku menghampiri . Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi padaku . Dan aku pun berkisah tentang kisahku .
The last day …
This time things will be different my love
It will be okay for me to trust you
I pray that the feelings that you have for me
will never change
*
Aku kini sedang berdiri di depan peristirahatan terakhir Saehee . Di sana terpampang fotonya yang sedang tersenyum dengan seekor burung camar bertengger di jemarinya yang lentik . Aku melihatnya sangat bahagia . Mungkinkah ia bahagia di sana ?
Saehee , ini aku Lee Donghae . Maaf , aku baru bisa menjengukmu . Aku membawakan sebuah hadiah . Mungkin aku terlambat memberikannya tapi ini hasil usahaku dengan kawan-kawan yang lain demi membuatmu hidup lebih lama lagi . Tapi aku yakin , kau tak pernah mati dan tak akan pernah mati, di hatiku . Seribu surah untukmu . Sebutkanlah permintaanmu , Saehee …
Tiba-tiba saja angin bertiup begitu kencang , hingga hampir menerbangkan burung-burung lipat itu . Burung-burung itu terbang … Mungkin ingin mencari sang empunya . Namun tiba-tiba selembar kertas mendarat di atas burung-burung lipat itu . Aku membaca tulisan di kertas itu :
“Kau akan hidup bahagia dengan wanita yang kau cintai”
Aku tertegun membaca kata-kata itu . Tulisan itu … aku mengenalnya . Kata-kata itu juga … Aku pernah membacanya . Saehee … Kaukah itu ?
“Kau tahu ? Kini aku bahagia . Ada kau di sisiku sekarang”
Selembar kertas lagi menghampiriku . Aku jatuh . Terduduk di depan nisannya. Aku tak kuat , aku sudah lama berpura-pura menjadi yang paling kuat . Aku lelah . Izinkan aku untuk menangis , Saehee . Aku hanya manusia biasa yang bisa menangis . Aku merindukanmu . Aku belum sempat katakan apa yang aku rasakan padamu . Kau belum mendengar pengakuanku, Saehee .
The first day of another story…
Because now I can embrace every word that you said
I’m sure that we’ll come closer to each other
I guess that’s love
Even if a tomorrow that nobody knows is waiting for us
it’s all right, don’t cry anymore
we’ll join hands
and keep walking on forever
*
Aku kembali ke kehidupan awalku . Ke kehidupan nyata yang aku punya . Aku tak pernah menyangka aku akan mengalami hal-hal yang tak pernah bisa aku cerna dengan akal sehatku . Tapi itu bagian dari kehidupan nyataku juga .
Di sini , aku mungkin jauh dari tempat peristirahatannya . Juga jauh dari laut yang mengantarkannya padaku . Tapi angin selalu menghembuskan kata-katanya padaku .
Dear ,
Aku tak tahu siapa dirimu sebenarnya . Aku hanya melihatmu dalam mimpiku .
Kau memberikan seekor kupu-kupu putih serta setoples kunang-kunang padaku . Apa maksudmu ? Tuhan tidak pernah menjawab arti mimpiku itu .
Dan kenapa kotak pos di sisi kapal karam itu juga ada di mimpiku ? Apa kau mengirimkan sesuatu padaku di sana ?
Aku ingin mengenalmu lebih jauh . Ohya , aku hampir lupa . Jika kau tahu jawabannya tolong beritahu aku : Kenapa aku jadi tiba-tiba menyukai laut , ya ?
Aku menunggu jawabanmu .
Kim Saehee
Aku melipat kertas surat itu . Tersenyum . Lalu menaruhnya di laci kamarku .
In another time when everything is started …
I ordered a cup of missing (you)
When it’s tomorrow, we can only let love pass by
Before daybreak, two persons’ smiling faces become a yellowed photograph
*
Aku sedang bermain ke pantai . Aku melihat sebuah pemandangan yang unik di pantai ini . Sebuah kapal karam dengan sebuah kotak pos di sisinya . Wow ! Tanpa ragu aku menghampiri kapal karam itu . Melihat-lihat kapal itu dengan teliti dari setiap sudut pandang . Misterius namun indah . Terlebih lagi kotak pos yang terbuat dari kayu itu tetap kokoh berdiri . Aku membuka kotak pos itu . Aku menemukan sebuah surat di sana .
Dear ,
Aku hanya ingin kau tahu , bahwa aku jatuh cinta . Ya , aku jatuh cinta . Pada seorang wanita yang tidak pernah aku kenal dan belum pernah aku temui sebelumnya . Tapi aku pernah menemukannya dalam mimpiku . Mimpi panjangku yang mengantarkanku untuk mempercayai tentang legenda kotak pos ini . Terlalu munafik bagiku awalnya , tapi aku mencobanya untuk membuktikan padanya bahwa legenda itu tidak benar .
Kau percaya legenda itu ?
Fishy
“Yoora , ayo kita pulang ! Hari mulai gelap “ Taeyeong memanggilku . Aku cepat-cepat mengambil surat itu . Aku akan membalasnya di rumah .